Saturday, December 7, 2013

BROMO, DEWA SUKU TENGGER


      Sejauh yang saya ingat saya adalah orang yang egois, ada hal dimana saya harus memaksa sesuatu tanpa berpikir kedepan ini itunya. Pernah saya berpikir kalo begini terus saya bisa bisa tidak mempunyai teman dalam durasi lama bahkan hanya dalam kategori harian saja. Ya teman harian ... Kayaknya saya bakal sedih kalo mereka perlahan mundur menjadi teman saya. Akhirnya perlahan mulai saya tinggalkan rasa egois, bermula dari mengajak teman saya berlibur.

elf
     Mungkin ini bukan tentang perjalanan saja bagi saya, tapi tentang mencoba mencintai pentingnya pertemanan hal di mana kita harus menjaganya erat tapi tidak takut pada saat ketinggian tiba. Rasanya bromo menjadi alasan yang tepat untuk bernostalgia tentang keramaian dan senyum manis para penikmat hidup.
menuju bromo
      Probolinggo, ya kita sampai di sini lalu di sapa langit yang sangat terik memancar seolah kita menikmati hal itu dan di selingi semilirnya angin tumpukan pemandangan hijau menuju bromo seolah menyulap mulut ini untuk tetap bersyukur.Saya akhirnya tau kalo ini karya seni dari sebuah dzat maha besar, sempat saya ingin menangis melihat ini semua, rasanya cengeng pada saat itu kalo menangis. 2 teman saya dinan dan sofyan sama juga mengucap kagum selama perjalanan di elf.
pemandangan bromo dari penginapan

      Teringat tentang ayah saya yang pergi merantau untuk mencari masa depan , sekarang saya tahu bahwa berjalan menikmati dunia luar adalah seninya orang sukses.
berjalan di sekitar penginapan

      Malam tiba, dini hari tepatnya, brum.. brum .. brum... jeep dengan suara menggeledek mulai memacu ke tempat dimana kita menikmati terbitnya matahari. Bersama teman baru Lee serta Bu dibyo dan pak dibyo. Ya saya tambah semangat ketika tahu siang kemarin kalo umur orang tua itu sudah menginjak 87 tahun.
malam menuju pagi

blue never blues

      Dan sambutan senyum, serta sentuhan antara pipi ke pipi adalah pemandangan pada saat menikmati bromo
sun-pride
      Banyak bukit memukau , hamparan pasir maha dasyat dan bagaimana bromo menjadi idaman di hati suku tengger


      Ajaibnya setiap kita melangkah raut muka cemberut dan melempem tidak pernah ada.


ladder of patient

smoker 



      Ya hari itu berwarna, dalam kenangan manis mereka semua mengucap syukur, dan kopi panas yang tertinggal setengah gelas untuk foto bersama.

Grow old with you


      Kami pun sama halnya mereka, senyum sendirian bak orang  yang baru gila

cup of coffee

Traveller Zone
     Sepulangnya dari sana, saya dan dinan serta sofyan tidur nyenyak bahkan suara suara orang di sekitarpun gak buat mimpi buruk buat kita, kita belajar banyak hal bahwa intisari dari ini semua adalah proses.

0 comments:

Post a Comment

My Blog List